Islam Kepemimpinan & Keindonesiaan

39140310_kampanye-masyumiGagasan Indonesia yang merdeka di mulai pada tahun 1903, ketika Jumi’at Khoir, sebuah organisasi Islam yang dipelopori oleh para ulama di Jakarta yang mengadakan Konggres Khilafah. Mereka mengagas sebuah pemikiran, ide besar tentang bagaimana masa depan Hindia-Belanda dalam prespektif ke Islaman.  Pada kesempatan “Konggres Khilafah” itu dihadirkan utusan dari Kekhalifahan dari Turki Utsmani yang diwakili oleh Muhammad Amin Bey. Kesimpulan yang dicapai dari situ adalah, “Kaum muslimin haram tunduk pada penguasa kafir”. Nah, gagasan inilah yang kelak disikapi oleh Belanda dengan sangat serius, karena gagasan ini memang pantas dicurigai akan memicu pembebasan negara ini dari cengkraman Belanda. Maka Belanda mengeluarkan Staatsblad nomer 26, tahun 1903 yang isinya: 1) Melarang para sultan dan para abdi dhalem pergi berhaji. Karena dikhawatirkan akan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Pan Islamisme yang sedang marak di Timur Tengah. Inilah yang membuat sultan-sultan kita, raja-raja kita pergi berhaji, kerena memang ada larangan dari Belanda selaku penguasa kala itu. 2) Orang yang pulang haji harus dicantumkan title “haji” di depan namanya, agar polisi dan intel Belanda bisa mengawasi. Hal ini hingga saat ini tetap dilestarikan, masih banya orang yang ditambahi gelar “H” sepulang berhaji. Tindakan ini disebabkan bahwa dahulu orang-orang yang pergi sepulang haji biasanya akan membuat kegiatan-kegiatan, menggerakkan masyarakat-masyarakat yang meresahkan pemerintah Belanda. 3) Masjid tidak boleh lagi dibangun di tempat-tempat keramaian. Akan tetapi hanya boleh dibangun di pojok-pojok desa menyatu dengan kuburan, supaya anak-anak muda enggan dan tidak pergi ke masjid. 4) Didirikan sekolah rendah untuk rakyat, dimana dari sekolah itu rakyat akan dibangun loyalitasnya terhadap pemerintah Hidia-Belanda. Yang diajarkan hanyalah menulis, menulis halus adalah materi pokoknya atau yang kerap disebut sebagai “ndelus”, nulis alus. Tanpa diajari cara berpikir hanya tehnis saja. Disebut juga sebagai “sekolah ongko loro”, karena durasi sekolahnya hanya dua tahun saja. Inilah kebijakan yang mengantisipasi berkembangnya pikiran untuk membebaskan diri dari kolonialisme Hindia-Belanda.

Akan tetapi semangat kemeredekaan, semangat jihad ingin membebaskan diri dari cengkraman kaum kafir tidaklah bisa dibendung …….

Ust. Muhammad Jazir ASP – Islam Kepemimpinan & Keindonesiaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s