Nubuah Ruwaibidoh

30dec13_goleman_the-focused-leader1

Al Qur’an ini adalah kitab yang diturunkan oleh Allah yang penuh barokah. Maka ikuti dia, tanpa ada pertimbangan yang pantas dipertimbangkan bila menyelisihi Al Qur’an. Umat Islam memiliki Al Qur’an yang penuh dengan barokah, akan tetapi faktanya umat ini sekarang menjadi umat yang terkalahkan menjadi orang-orang yang telemahkan. Saudara kita di Rohingnya menjadi manusia perahu, tersingkir dari negerinya, terhinakan di negeri orang lain. Saudara kita di Cina tidak boleh berpuasa di bulan Ramadhan, bakan tidak boleh mengikuti ibadah-ibadah yang lain, karena negara atheis-komunis itu berdalih “jangan bawa-bawa agama dalam wilayah publik, jangan bawa-bawa agama dalam urusan negara dan kemasyarakatan”. Tapi sayang Indonesia kalau dahulu Suharto berkiblat ke eropa, ke Amerika sana, “tidak benar juga sih”, tapi sekarang yang lebih buruk pemerintahan Jokowi kini berkiblat ke Rusia sana, dan ke Cina sana, keduanya negara komunis terbesar di dunia yang “Anti Agama”. Padahal, jika kita ingin mendapatkan Rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ikutilah Al Qur’an. Tanpanya kita akan tergoda mengikuti pendapat-pendapat yang menyesatkan sehingga menjauhkan umat Islam dari Islam. Rasulullah telah menubuahkan, mengisyaratkan akan datangnya suatu zaman, zaman yang mengerikan tatkala orang-orang yang Baca lebih lanjut

Iklan

Al-Qur’an Sebagai Pendidik Utama

yuuDi dalam Al-Qur’an tercatat nama Yusuf. Dia adalah Yusuf A’laihi sallam seorang mulia yang memiliki setengah ketampanan umat manusia. Al-Qur’an menyajikan surat bernamakan namaya, yakni Surat Yusuf,  di dalamnya kisahnya tertulis mendayu-dayu lagi syahdu bak novel terbaik sepanjang masa, bahkan lebih dari itu. Hingga sampai suatu ketika Nabi Shallahu’alaihi wa Shallam ditanya “siapa orang diluar Arab yang paling mulia?” beliau menjawab, “Yusuf, bagaimana tidak ayahnya seorang nabi, kakeknya seorang nabi, dan dirinya pun adalah nabi”.

Lihatlah Yusuf seorang yang mulia tidak hanya fisik tapi juga batin, mustahil bila bukan merupakan buah dari pendidikan yang mulia Baca lebih lanjut

Sejarah Wali Songo

wali_songoSejarah berasal dari kata sajaro (pohon), sehingga dengannya kita bisa memahami akar, daun, dan rantingnya kehidupan. Sejarah, merupakan 2/3 kandungan dalam Al-Qur’an. Sebab sejarah merupakan guru kehidupan, sebagaimana Bung Karno mengatakan “JALI MERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah”atau lebih terkenal setelah dipelesetkan oleh Mr. Ali Satrawijoyo menjadi “Jas Merah”.

Begitu pentingnya sejarah bagi kehidupan manusia, barangsiapa yang mengetahui sejarah maka ia akan memiliki visi, dan misi kehidupan lebih jauh ke depan daripada yang tidak. Begitu pula dengan Dinul Islam ini, kita pada kesempatan kali ini akan berbicara dalam dimensi sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo. Dan sebaliknya, orang yang tidak mengenal sejarah maka akan kacau kehidupannya. Inilah salah satu poin penting yang menjawab pertanyaan mengapa umat Islam saat ini khususnya di tanah jawa mengalami keterpurukan. Salah satu yang disinyalir kuat ialah, sebab umat Islam di tanah ini tidak mengetahui sejarah mereka sendiri.

Banyak berbagai macam versi yang berkembang mengenai sepak terjang Wali Songo ini, belum lagi bumbu-bumbu mistis dan klenik berbau syirik yang disematkan oleh masyarakat secara turun-temurun. Sesungguhnya hal itu sama sekali tidak Baca lebih lanjut

Adab Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu di bumi-bumi Allah ini hendaknya kita senantiasa tetap bersungguh-sungguh di kala senggang, bersemangat, badan kuat, pikiran segar, dan ketika sedikit kesibukan sebelum banyak tuntutan dunia dan memegang jabatan. Amirul mukminin, Umar ibn Khattab pernah berkata: “belajarlah hingga kalian faham sebelum kalian diangkat menjadi pemimpin”. Maksudnya ialah bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu dan menyempurnakan keahlian kahlian ketika kalian menjadi pengikut sebelum kalian menjadi pemimpin, karena jila kalian telah menjadi seorang tuan yang diikuti, kalian akan terhalang dari belajar disebabkan tingginya martabat dan banyaknya kesibukan. Perkataan senada juga dilontarkan oleh Imam Syafi’i, “belajarlah hingga kamu memahami, sebelum menjadi pemimpin, jika kamu sudah menjadi pemimpin tidak ada lagi kesempatan untuk melakukan hal tersebut”.

mencari-ilmuIlmu itu adalah karunia dari Allah Swt dan Allah Swt itu tidaklah memberikan karunianya kepada orang-orang yang tidak menghargai karuniaNya. Bukan ilmu namanya bila ia tidak mampu mendatangkan manfaat baik di dunia maupun di akhirat, oleh karena itu dalam menuntut ilmu ada kaedah-kaedahnya, ada adab-adabnya.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “wahai para ulama (ahli ilmu) amalkan ilmu kalian karena seorang ulama adalah orang yang me Baca lebih lanjut

Fiqih Demokrasi

Demokrasi sudah menjadi paham atau sistem politik yang mendunia, termasuk di dunia Islam. Hampir semua negara-negara di dunia ini, mayoritas dari mereka menggunakan sistem ini dan bisa dikatakan bagi negara-negara Islam yang tidak menggunakan sistem demokrasi ini tidaklah utuh, tidaklah tunggal, atau paripurna dalam menggunakan sistem politik selain demokrasi.uploads--1--2013--12--50688-ismail-yusanto-pks-tak-jauh-beda-dengan-partai-sekulerDalam artian masih banyak ruang bagi mereka untuk terkena pengaruh dari nilai-nilai sistem demokrasi ini.

Setidaknya ada tiga pandangan, kelompok sikap berbeda dari umat Islam ketika berhadapan dengan demokrasi :
1. Mengatakan bahwa tidak ada masalah sama sekali dalam demokrasi, sebab inti dari demokrasi adalah agama Islam. Bahkan ada istilah “Tuhan pun Maha Demokratis”.

  1. Mengatakan bahwa demokrasi sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Islam, Islam adalah Islam, demokrasi adalah demokrasi. Bahkan mereka mengatakan Islam dan demokrasi ini bertentangan 180°.
  2. Mengatakan bahwa memang demokrasi bukan berasal dari Islam, akan tetapi Islam bisa memberikan sumbangan nilai-nilai terhadap demokrasi. Sehingga yang terjadi ialah bukanlah demokrasi yang berkembang menjadi demokrasi yang liberal melainkan ia akan berkembang menjadi demokrasi yang Islami atau demokrasi yang religius.

Bagaimana cara menilai ketika kelompok sikap ini? Manakah yang benar ?

Sahabat sekalian masalah ini sesungguhnya bermula dari perbedaan cara Baca lebih lanjut

Keluarga Sakinah, Keluarga Barokah

254986_190515050997631_3258688_n

ٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةًۭ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” [QS. An Nahl (16):72].

Sakinah itu adalah konsekuensi pernikahan, jika pernikahan itu dilangsungkan oleh sesama manusia antara laki-laki dan perempuan. Ini menunjukkan bahwa memang pernikahan yang di jadikan tanpa ada unsur paksaan serta saling ridho itu memang selayaknya sakinah, sehingga sudah sewajarnya pernikahan yang seperti ini sudah tidak perlu lagi didoakan untuk menjadi keluarga sakinah (tentram/bahagia), sebagaimana doa yang telah umum di tengah masyarakat “semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah ya…”. Karena yang menjadi fokus kita untuk mendoakan mereka seharusnya adalah agar menjadi keluarga yang berkah/barokah, sebab tidak semua keluarga yang tentram itu berkah. Sakinah merupakan kualifikasi minimal dari pernikahan, tidak hanya orang muslim yang mendapat sakinah dari Allah, orang non muslim pun banyak. Namun, yang namanya berkah atau barokah itu hanya Allah berikan kepada keluarga muslim saja. Sehingga dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah itu berbeda dengan doa yang umum terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Yang beliau ajarkan ialah doa meminta keberkahan kepada Allah bagi keluarga yang baru menikah :

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
BARAKALLAH LAKA WA BARAKA ‘ALAIKA WA JAMA’A BAINAKUMA FIL KHAIR (semoga Allah memberi berkah kepadamu & keberkahan atas pernikahan kamu, & mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan). (Abu Isa At Tirmidzi)

Sedang mawaddah dan warohmah bukanlah tentang Baca lebih lanjut