Ilmu Sebagai Komando Dakwah

 

readers-leaders

Adalah Harist, malaikat kelas VIP yang kelak menjadi iblis. Dia adalah pemimpin KOPASUSnya malaikat, komandan/ jendral para malaikat beberapa kali di tugasi oleh Allah untuk memadamkan pemberontakan dan pertumpahan darah di muka bumi oleh para jin. Dengan KasihNya, Harist diberi keistimewaan-keistimewaan oleh Allah. Pantas saja, sebab dia adalah yang paling alim (berilmu), cerdas, dan paling banyak ibadahnya. Sayangnya kemudian ia lupa diri, lupa bahwa semua keistimewaan itu berasal dari Allah. Dia merasa, “Saya memang orang hebat. Bukan karena pemberian Allah, lha memang sayanya hebat. Saya memang cerdas. Semua diberi akal oleh Allah, akan tetapi saya diberi akal oleh Allah mampu mengembangkannya. Jadi saya memang hebat, bukan karena pemberian Allah”, begitu kira-kira kata Harist. Krentek hatinya itu akhirnya berkembang dan berkembang, pikiran itu mengusasai hati, jalan pikiran, dan pandangan hidupnya. “wong saya diciptakan oleh Allah dengan bahan yang istimewa. Kalau para malaikat lainnya diciptakan dari cahaya, sedangkan saya dari ujungnya api, puncak dari panas yang murni, tidak terkena abu, bersih, api yang paling VIP.  Sejak awal saya memang diciptakan hebat”.

Akan tetapi Allahlah yang Maha Tahu, Allah mendengar setiap pikiran yang menggelayuti si Harist ini, setiap bersitan hati yang menyesaki dirinya. Maka Allah kemudian mengumpulakan para malaikat untuk mengumpulkan bahan-bahan (tanah-tanah) supaya diciptakan Adam. Sengaja oleh Allah menciptakan Adam dari tanah liat yang, basah nan bau. Ketika Harist melewati calon manusia yang mulai dibentuk menjadi kerangka manusia oleh tangan Allah sendiri kemudian Allah letakkan sesuai sunnatullah sebagai proses pengeringan, kemudian diludahi oleh Harist. Betapa baunya tanah ini bagi Harist, tidak terbanyang sama sekali bahwa tanah itulah yang kelak dinobatkan sebagai, “Khalifatullah fil Ard, wakil Allah di muka bumi”.

Sehingga tatkala Allah usai meniupkan ruh padanya, jadilah sesosok Adam yang padahal Harist tahu betul asal-muasalnya, lha kok ternyata ada pengumuman dari Allah, “inni ja’ilun fil ardhi khalifah, Sesungguhnya Aku hedak menjadikannya sebagai seorang khalifah di muka bumi”. Terkejutlah bukan kepalang Harist, “lhooo… keputusan macam apa ini? Aku yang hebat, bukan dia! Aku sehebat-sehebat dari bahan yang paling top. Akan tetapi yang dipilih kok malah bahan rendahan (tanah) yang bau itu?. Keputusan apa ini!”. Iblis menggunakan pikiran demokratisme yang pertama kali, selaku pengagas dia dihadapan Allah menunjukkan HAM, kebebasan berpendapat dan berbicara dihadapan Allah sekalipun.

Lebih stres lagi Harist, ketika ada perintah dari Allah agar disuruh sujud kepada Adam, makhluk yang diangap bau dan rendahan oleh dirinya. “Lho… saya disuruh sujud? Pada makhluk bau kayak gitu?” Baca lebih lanjut

Iklan

Butir Salju Penanda Kiamat

Albert Einstein dengan teori relativitasnya menunjukkan bahwa, segala sesuatu di dunia, terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Artinya apa, bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki masa, memiliki batas, dan tidak absolut adanya. Sebetuk benda  bisa berubah bentuk, rapuh, rusak, bahkan hancur, karena ia terbatasi oleh dimensi ruang. Pun demikian, sebentuk benda akan menemui titik dimana dia akan rapuh, rusak, bahkan hancur tak bersisa, lenyap, yang hidup akan mati, manusia pasti akan mati, alam semesta akan menemui ajalnya “laa uqsimu biyaumil qiyaamah” karena ia terbatasi oleh dimensi waktu. Persis seperti produk makanan yang dicipta manusia yang umumnya di kemasannya terdapat tanggal ekspaietnya, begitupula produk ciptaan Allah. Allah telah menulis tanggal ekspaiet setiap makhluk ciptaannya, dimana? Fii lauhim mahfudz, tertanggal 50.000 th sebelum masa penciptaan.

Akhi, dunia ini akan hancur, Alam semesta akan menuai kiamatnya, “pasti”. 1400 tahun yang lalu, Muhammah Shallahu’alaihi wa Shallam mengatakan:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ…حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga tanah Arab menjadi lahan yang subur dan dialiri sungai- sungai.” (HR Muslim no.1681)

Mungkin dahulu ketika manusia mendengar dari mulut Muhammad mengira, rupanya Muhammad sudah gila, rupanya Muhammad sudah kehilangan akalnya, sebab Baca lebih lanjut

Al-Qur’an Sebagai Pendidik Utama

yuuDi dalam Al-Qur’an tercatat nama Yusuf. Dia adalah Yusuf A’laihi sallam seorang mulia yang memiliki setengah ketampanan umat manusia. Al-Qur’an menyajikan surat bernamakan namaya, yakni Surat Yusuf,  di dalamnya kisahnya tertulis mendayu-dayu lagi syahdu bak novel terbaik sepanjang masa, bahkan lebih dari itu. Hingga sampai suatu ketika Nabi Shallahu’alaihi wa Shallam ditanya “siapa orang diluar Arab yang paling mulia?” beliau menjawab, “Yusuf, bagaimana tidak ayahnya seorang nabi, kakeknya seorang nabi, dan dirinya pun adalah nabi”.

Lihatlah Yusuf seorang yang mulia tidak hanya fisik tapi juga batin, mustahil bila bukan merupakan buah dari pendidikan yang mulia Baca lebih lanjut

Logika Keberadaan Allah

how-entrepreneurs-think-differentlyDiawal surat Al-Baqarah Allah menyatakan bahwasannya ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang percaya pada perkara yang ghaib, perkara ghaib yang paling besar adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana kita bertaqwa sedangkan kita tidak percaya akan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab Allah itu ada tetapi tidak bisa dilihat oleh pandangan mata manusia ketika mereka masih hidup. Demikianlah Allah mensifati dirinya sendiri di Baca lebih lanjut

Fiqih Seni Rupa

shiddiq_al_jawiSebagian orang menganggap bahwa seni rupa ialah buah dari citra, karya, karsa, dan rasa yang estetis yang mampu diterjemahkan oleh indra penglihatan. Sebagian juga orang menganggap bahwa seni rupa hanyalah nama lain dari goresan-goresan semata. Tapi jauh sebelum itu ternyata Islam telah menurunkn aturannya mengenai hal tersebut. Sehingga mucullah ilmu fiqih yang mampu menjawab pertanyaan besar, hasil goresan yang bagaimanakah yang mampu menghantarkan surga, dan manakah yang mampu menghantarkan murka?
Bagaimana ada apa sajakah itu?

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43
Ust. Shiddiq Al-Jawi – Fiqih Seni Rupa A | 11Mb
Ust. Shiddiq Al-Jawi – Fiqih Seni Rupa B | 11Mb
Ust. Shiddiq Al-Jawi – Fiqih Seni Rupa C (Membahas hukum taswir dan seni peran) | 11Mb

Be Extra Ordinary Student (Menjadi Siswa yang Luar Biasa)

Catatan Minggu Pagi: Katakan pada Anak Muda* (oleh Nopriadi Hermani)

Suatu saat saya bertanya kepada mahasiswa di depan kelas tentang masa remaja, “Setujukah Anda dengan pernyataan bahwa masa remaja adalah masa pencarian jati diri?” Sebagian besar menyatakan setuju dengan pernyataan itu. Saya 11060893_858127814251900_3381276365518637882_nulangi lagi dengan pertanyaan yang sama. Jawaban mereka semakin mantap. Kemudian saya ulangi lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama. Maka terdengar koor suara mereka yang semakin lantang. Sempurna sudah persetujuan mereka. Mereka semua berasumsi bahwa masa remaja adalah masa-masa mencari jati diri.

Bagaimanakah dengan Anda? Bila Anda masih single, terutama anak muda, setujukah Anda? Bila Anda sudah berkeluarga, terutama yang punya anak, apakah Anda juga setuju bahwa masa remaja anak-anak Anda kelak adalah masa-masa mencari jati diri?

Di dalam kelas agama itu saya menyatakan bahwa pernyataan itu salah. Sambil guyon saya mengatakan bahwa pernyataan ‘masa remaja adalah masa mencari jati diri’ adalah benar untuk remaja yang bermasalah. Benar untuk remaja yang terlambat menemukannya. Mengapa?

Kemudian saya bercerita pada mereka tentang sejarah anak muda. Soekarno, presiden pertama Indonesia, aktif menjadi anggota Jong Java (lebih tepatnya cabang Surabaya) pada usia 14 tahun. Pada usia itu dia sudah mampu berpidato di depan forum. Dia sudah menyampaikan gagasan atau pemikirannya. Kemudian Mohammad Hatta. Pada usia sekolah dia aktif di Jong Sumatera. Dia telah aktif Baca lebih lanjut

Islam Sebagai Way Of Life

Seorang penulis pernah berkata “yang paling sulit di dunia ini adalah memilih jalan yang benar” dan yang lebih sulit lagi ialah “Mempertahankan diatas jalan yang benar itu”. Oleh karena itu seorang yang sudah beriman, berkeyakinan terhadap agama Islam ini sebagai jalan yang paling benar maka jadikanlah ia sebagai “Way Of Life” janganlah sekali-kali berbelok, menyimpang, dan bermain-main tidak peduli, namun berpegang tegulah terhadap jalan hidup yang telah dipilih ini. Hal ini adalah merupakan sebuah hal yang sulit sebab mengikuti dan memilih jalan yang haq maupun bathil, jalan yang sesat atau benar karena itu adalah pilihan bukan paksaan.

Ustadz Irvan S Awwas

Ustadz Irvan S Awwas

Ada sebuah kisah, seorang sarjana Prancis berdebat dengan seorang sarjana muslim. “Saya tidak ingin masuk Islam” katanya “Saya tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia ini, adanya hari akhir yang kelak manusia dimintai pertanggung jawaban atas segala sesuatu yang ia kerjakan” lanjutnya.
“Baik” kata sarjana muslim ini, “jika anda mempercayai bahwa tidak ada kehidupan setelah kehidupan dunia itu tidak mengapa, sebab itu pilihan yang anda yakini”. “Tetapi” katanya lanjut, “tetapi pertanyaan saya, jika betul akhirat itu ternyata benar ada, apa pendapat anda? jika keyakinan anda yang benar, kita mati kemudian jadi tanah tanpa ada kelanjutan urusan, itu tidak mengapa, selesai urusan kita. Namun jika akhirat itu yang benar apa pendapat anda ? jika hari dimana manusia dimintai pertanggung jawaban itu benar adanya, apa yang akan anda lakukan saat itu?”

Sontak “anda benar!jika saya benar maka itu tidak masalah, andapun tidak rugi dibuatnya, namun jika yang anda yakini itu yang benar maka celakalah saya”. Baca lebih lanjut