Islam Kepemimpinan & Keindonesiaan

39140310_kampanye-masyumiGagasan Indonesia yang merdeka di mulai pada tahun 1903, ketika Jumi’at Khoir, sebuah organisasi Islam yang dipelopori oleh para ulama di Jakarta yang mengadakan Konggres Khilafah. Mereka mengagas sebuah pemikiran, ide besar tentang bagaimana masa depan Hindia-Belanda dalam prespektif ke Islaman.  Pada kesempatan “Konggres Khilafah” itu dihadirkan utusan dari Kekhalifahan dari Turki Utsmani yang diwakili oleh Muhammad Amin Bey. Kesimpulan yang dicapai dari situ adalah, “Kaum muslimin haram tunduk pada penguasa kafir”. Nah, gagasan inilah yang kelak disikapi oleh Belanda dengan sangat serius, karena gagasan ini memang pantas dicurigai akan memicu pembebasan negara ini dari cengkraman Belanda. Maka Belanda mengeluarkan Staatsblad nomer 26, tahun 1903 yang isinya: 1) Melarang para sultan dan para abdi dhalem pergi berhaji. Karena dikhawatirkan akan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Pan Islamisme yang sedang marak di Timur Tengah. Inilah yang membuat sultan-sultan kita, raja-raja kita pergi berhaji, kerena memang ada larangan dari Belanda selaku penguasa kala itu. 2) Orang yang pulang haji harus di Baca lebih lanjut

Iklan

50 Pendakwah Pengubah Sejarah (Bedah Buku)

50-pendakwah-pengubah-sejarah-302-zoom-150 Pendakwah Pengubah Sejarah adalah tulisan yg mengungkapkan keteladanan Pendakwah. Menghimpun 50 kisah pendakwah yang kesemuanya telah wafat. Memang sengaja dipilih yang telah berpulang ke rahmatulloh karena “buku” mereka sudah “ditutup”. Jika sampe akhir hayatnya seseorang dikenal secara luas tetap istiqomah dalam berdakwah, maka itulah yg masuk kriteria dalam buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah ini. Kesemuanya adalah tokoh Indonesia diantaranya sudah sering terdengar di telinga kita dari ulama klasik Imam Nawawi Albantani, pertengahan ada Hasim As’ari, Ahmad Dahlan, zaman kemerdekaan ada M Natsir sampe masa kini ada Rahmat Abdulloh, Yoyoh Yusroh dll. Semoga kita mampu mengambil ibroh.

Ust. Okrisal Eka – 50 Pendakwah Pengubah Sejarah (Bedah Buku) | 58 mnt | 8 mb

Butir Salju Penanda Kiamat

Albert Einstein dengan teori relativitasnya menunjukkan bahwa, segala sesuatu di dunia, terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Artinya apa, bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki masa, memiliki batas, dan tidak absolut adanya. Sebetuk benda  bisa berubah bentuk, rapuh, rusak, bahkan hancur, karena ia terbatasi oleh dimensi ruang. Pun demikian, sebentuk benda akan menemui titik dimana dia akan rapuh, rusak, bahkan hancur tak bersisa, lenyap, yang hidup akan mati, manusia pasti akan mati, alam semesta akan menemui ajalnya “laa uqsimu biyaumil qiyaamah” karena ia terbatasi oleh dimensi waktu. Persis seperti produk makanan yang dicipta manusia yang umumnya di kemasannya terdapat tanggal ekspaietnya, begitupula produk ciptaan Allah. Allah telah menulis tanggal ekspaiet setiap makhluk ciptaannya, dimana? Fii lauhim mahfudz, tertanggal 50.000 th sebelum masa penciptaan.

Akhi, dunia ini akan hancur, Alam semesta akan menuai kiamatnya, “pasti”. 1400 tahun yang lalu, Muhammah Shallahu’alaihi wa Shallam mengatakan:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ…حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga tanah Arab menjadi lahan yang subur dan dialiri sungai- sungai.” (HR Muslim no.1681)

Mungkin dahulu ketika manusia mendengar dari mulut Muhammad mengira, rupanya Muhammad sudah gila, rupanya Muhammad sudah kehilangan akalnya, sebab Baca lebih lanjut

Logika Keberadaan Allah

how-entrepreneurs-think-differentlyDiawal surat Al-Baqarah Allah menyatakan bahwasannya ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang percaya pada perkara yang ghaib, perkara ghaib yang paling besar adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana kita bertaqwa sedangkan kita tidak percaya akan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab Allah itu ada tetapi tidak bisa dilihat oleh pandangan mata manusia ketika mereka masih hidup. Demikianlah Allah mensifati dirinya sendiri di Baca lebih lanjut

Karakter Kepemimpinan Rasulullah

thought-leadership

Kepemimpinan yang berbasis kenabian, merupakan sebuah kemampuan dasar yang tercerminkan pada diri setiap nabi yang bergilir dan berganti di sepanjang peradaban manusia, dan kesempurnaan jiwa leadership telah di capai oleh Rasulullah. Inilah sebuah konsep kepemimpinan yang mencerahkan, seberkah cahaya yang selayaknya menjadi panduan dari setiap umat manusia setelah mereka. Sebab Rasulullah hadir bukan untuk unjuk kebolehan, dipuja, dan dikenang oleh sejarah sebagai sosok yang dikagumi semata, tidak! Baca lebih lanjut

Be Extra Ordinary Student (Menjadi Siswa yang Luar Biasa)

Catatan Minggu Pagi: Katakan pada Anak Muda* (oleh Nopriadi Hermani)

Suatu saat saya bertanya kepada mahasiswa di depan kelas tentang masa remaja, “Setujukah Anda dengan pernyataan bahwa masa remaja adalah masa pencarian jati diri?” Sebagian besar menyatakan setuju dengan pernyataan itu. Saya 11060893_858127814251900_3381276365518637882_nulangi lagi dengan pertanyaan yang sama. Jawaban mereka semakin mantap. Kemudian saya ulangi lagi bertanya dengan pertanyaan yang sama. Maka terdengar koor suara mereka yang semakin lantang. Sempurna sudah persetujuan mereka. Mereka semua berasumsi bahwa masa remaja adalah masa-masa mencari jati diri.

Bagaimanakah dengan Anda? Bila Anda masih single, terutama anak muda, setujukah Anda? Bila Anda sudah berkeluarga, terutama yang punya anak, apakah Anda juga setuju bahwa masa remaja anak-anak Anda kelak adalah masa-masa mencari jati diri?

Di dalam kelas agama itu saya menyatakan bahwa pernyataan itu salah. Sambil guyon saya mengatakan bahwa pernyataan ‘masa remaja adalah masa mencari jati diri’ adalah benar untuk remaja yang bermasalah. Benar untuk remaja yang terlambat menemukannya. Mengapa?

Kemudian saya bercerita pada mereka tentang sejarah anak muda. Soekarno, presiden pertama Indonesia, aktif menjadi anggota Jong Java (lebih tepatnya cabang Surabaya) pada usia 14 tahun. Pada usia itu dia sudah mampu berpidato di depan forum. Dia sudah menyampaikan gagasan atau pemikirannya. Kemudian Mohammad Hatta. Pada usia sekolah dia aktif di Jong Sumatera. Dia telah aktif Baca lebih lanjut

Pendidikan Kapitalis Pencetak Generasi Rusak

Hidup di era kegagalan tidak cukup sekedar menjadi orang baik. Orang baik artinya berusaha menjalani segala peran di dalam hidup berdasarkan prinsip (Islam dan sunatullah). Begitupun dalam mendidik anak-anak kita. Tidak cukup sekedar menjadikan mereka mampu menjalani peran-peran di dalam hidup dengan baik. Mengapa?

sch anak-anak kita, sedang kendalikan, diarahkan oleh banyak kekuatan. Era kegagalan adalah setting kekuatan-kekuatan itu secara simultan sedang menciptakan ketidakbahagiaan dan krisis multi-dimensi. Ada sebuah mesin di level peradaban dunia yang sedang bekerja men-tuning negara-negara di seluruh dunia, masyarakat, sekolah, rumah bahkan anak kita menuju ke kerusakan hidup. Hedonisme, perzinahan, perselingkuhan, free-sex, korupsi, pedofilia, pornografi, krisis ekonomi, global warming dan berbagai bencana kemanusiaan terus diproduksi secara sistemis. Tentu saja sistem yang bekerja adalah Baca lebih lanjut