Dampak Negatif Budaya Digital

Dalam mencermati media masa membuat kita teringat dari apa yang pernah dikatakan oleh Karl Marx bahwa, “prilaku sosial masyarakat sangatlah tergantung pada alat produksinya”. Sekarang alat produksi yang paling berkembang di zaman ini ialah media masa. Mediamasa inilah yang membawa pengaruh hpterlebih media masa yang berkembang pada saat ini ialang adalah dalam bentuk digital. Sehinggal media masa inilah yang pada akhirnya menggiring manusia pada pergeseran prilaku dan budaya, yang kita sebut dengan budaya digital. Dan budaya digital ini bila dicermati kembali, menghasilkan beberapa bentuk perubahan yang sangat kontras dengan masyarakat sebelum ada alat produksi digital ini. Diantara dampak tersebut tentusaja ada nilai negatif dan positifnya, dan pada pembahasan kali ini akan membahas dampak negatif karena ini jarang dibahas, dan agar kita bisa lebih berhati-hati dan mewaspadai terhadap hal tesebut.

Dalam dunia pendidikan dari budaya inilah karakter generasi penerus bisa dibaca, dan apabila salah dalam mewapadai maka akan berakibat fatal, sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib ra. “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu”.

Setidaknya ada 6 poin dari dampak negatif yang ditimbulkan dari budaya digital/ dunia maya :

1. Prilaku Instan (serba cepat, mudah)
2. Imagologi (pencitraan)
3. Hiperialitas (sesuatu yang tidak ada, dianggap ada)
4. Fetisme (pemujaan) Baca lebih lanjut

Iklan

Pandangan Islam Terhadap Hari Wanita Internasional

Pada bulan maret kaum perempuan internasional memperingati hari perempuan internasional. Hal ini diperingati tentu saja bukan tanpa makna,  kepentingan dan tujuan didalamnya ada sejarah akan maksud penting yang diperjuangkan oleh pengagasnya. Ide ini digagas oleh bangsa barat terutama dari kalangan feminis yang memperjuangkan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Dan kemudian hal ini di akomodir oleh negeri-negeri yang berasaskan kapitalis, yang menganggap bahwa perempuan memiliki kedudukan strategis baik dari segi ekonomi, sosial, maupun politik. 1296953889-hizb-ut-tahrir-protest-through-edgware-road-to-egyptian-embassy_580899

Saat ini fenomena muslimah bekerja sudah menjadi rutinitas harian yang terlihat dalam aktivitas bermasyarakat. Terlepas dari menilik hukum bolehnya wanita bekerja dalam pandangan Islam, kondisi perempuan yang berperan dalam dunia kerja saat ini karena dua pilihan. Bekerja karena terpaksa atau karena sukarela memenuhi gengsi kesenangan belaka.

“Perempuan terpaksa bekerja bahkan melewati waktunya memenuhi kewajibannya di dalam keluarga. Adanya kesenjangan yang lebar antara yang kaya dan miskin karena tidak diterapkannya hukum kepemilikan SDA yang tepat. Mana yang kepemilikan umum, individu, atau Negara. Sehingga fasilitas yang seharusnya dinikmati dengan mudah jadi sulit. Seperti bahan baku makanan, BBM dan sebagainya yang semakin sulit untuk dimiliki. Mau tidak mau, perempuan ikut membantu keluarganya dalam memenuhi kebutuhan hidup”. Sehingga dengan mudah wanita dijerumuskan kedalam perubahan peran, mejadi obyek komersial belaka Baca lebih lanjut

Pendidikan Kapitalis Pencetak Generasi Rusak

Hidup di era kegagalan tidak cukup sekedar menjadi orang baik. Orang baik artinya berusaha menjalani segala peran di dalam hidup berdasarkan prinsip (Islam dan sunatullah). Begitupun dalam mendidik anak-anak kita. Tidak cukup sekedar menjadikan mereka mampu menjalani peran-peran di dalam hidup dengan baik. Mengapa?

sch anak-anak kita, sedang kendalikan, diarahkan oleh banyak kekuatan. Era kegagalan adalah setting kekuatan-kekuatan itu secara simultan sedang menciptakan ketidakbahagiaan dan krisis multi-dimensi. Ada sebuah mesin di level peradaban dunia yang sedang bekerja men-tuning negara-negara di seluruh dunia, masyarakat, sekolah, rumah bahkan anak kita menuju ke kerusakan hidup. Hedonisme, perzinahan, perselingkuhan, free-sex, korupsi, pedofilia, pornografi, krisis ekonomi, global warming dan berbagai bencana kemanusiaan terus diproduksi secara sistemis. Tentu saja sistem yang bekerja adalah Baca lebih lanjut

Dasar Dasar Estetika Islam

Seni yang telah dirancang oleh filsuf barat, seni profan, jauh dari spirit wahyu bahkan lepas sama sekali dari kaca mata keagamaan dan tentu saja mengandung sekulerastik akut. Barat sebagai pemerhati seni, menurut schuon, tidak bisa Deni Junaedi Photo Profilmenentukan arah perkembangan seni itu sendiri karena bagi mereka, segala yang bisa disebut keindahan adalah anugrah alam semesta kepada manusia untuk dinikmati sebagai pelampiasan hasrat nafsu badaniah semata. Dalam pandangan Kristen misalnya, seni hanya dianggap sebagai media untuk menyalurkan aspirasi terpendam dan bukan sebagai bentuk persembahan agung pada sang pencipta. Banyak karya seni dan kriya hasil budaya Barat lebih menonjolkan bentuk lekuk tubuh wanita telanjang bahkan sedang melakukan persetubuhan. Dari sini muncul pertanyaan, apakah keindahan dari seni hanya berasal dari keindahan lekuk tubuh wanita saja? Jawabannya tentu bukan. Islam tidak mengajarkan tentang hal seperti itu. Seni dalam Islam lebih menonjolkan nilai suci (sakral)yang bisa dilihat nilai estetiknya. Nilai estetik Islam sendiri lebih menonjolkan satu-kesatuan bentuk yang berulang-ulang sehingga tercipta sesuatu yang harmonis dan seimbang. Keteraturan itu menggambarkan seni sebagai pengantar jiwa manusia ke Tuhan, ke Allah.

Imam Al Ghazali membagi keindahan menjadi Baca lebih lanjut

Kegagalan Manusia Menata Peradaban

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

—     TQS. Ar-Rum: 41 

1379610_861910137183200_524448291833541520_nAnda tentu masih ingat dengan the days of ignorance (zaman jahiliah) di jazirah Arab. Saat itu manusia hidup dengan hukum dan budaya jahiliah (kebodohan). Berbagai kerusakan menjadi bagian kehidupan manusia. Seorang ayah merasa malu bila memiliki anak perempuan. Sebagian dari mereka tega membunuh anak sendiri sebelum beranjak dewasa. Moralitas juga hancur. Pelacuran tumbuh subur. Tidak hanya pelacuran, sebagian suami malah merelakan istrinya digauli laki-laki lain demi perbaikan keturunan. Perbudakan terhadap manusia juga jauh dari perikemanusiaan. Zina, riba, dan minuman memabukkan tampak secara nyata dalam kehidupan. Zaman kebodohan ini beranjak pergi setelah manusia diatur dengan aturan Ilahi yang berasal dari Al-Khaliq. Muhammad saw. dan pengikutnya membawa perubahan di jazirah Arab dan sekitarnya dengan me-landing-kan Islam.

Dunia juga mengenal the dark ages (zaman kegelapan) di abad pertengahan Eropa. Saat itu doktrin gereja dan otoritas absolut penguasa mengatur manusia dengan kekuasaan represif. Gereja dan raja berkolaborasi mengatur manusia. Semboyan L’etat c’est Mo (negara adalah saya) begitu terasa di tengah kehidupan masyarakat. Raja diposisikan sebagai wakil Tuhan di muka bumi dan gereja memberi legitimasinya. Itulah kekuasaan teokrasi. Hasilnya? Manusia hidup tertindas di bawah kekuasaan despotik dan represif. Kebenaran harus tunduk di bawah doktrin gereja dan raja. Ilmu pengetahuan dianggap bid`ah dan korbannya adalah para ilmuwan yang mengemukakan kebenaran saintifik. Manusia hidup tertekan dan terpasung dengan doktrin-doktrin yang dipaksakan. Penindasan terjadi di mana-mana, termasuk penindasan terhadap kebenaran. Suara kebenaran dipasung dan banyak yang mati di tiang gantungan, salah satunya penyuara teori heliosentris, Copernicus.

The dark ages berakhir dengan perjuangan ilmuwan dan intelektual di abad kegelapan Eropa melahirkan abad pencerahan, the age of enlightenment. Ini terjadi sekitar abad ke-18 M. Mereka bersemangat melakukan revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional dari berbagai aspek, terutama terkait falsafah soverignity, kedaulatan. Kedaulatan tidak lagi ditangan raja atau biarawan, tapi di tangan rakyat (demokrasi). Suara rakyat adalah suara Tuhan menggeser pandangan raja sebagai wakil Tuhan.  Benturan keras antara prinsip gereja dengan kegelisahan intelektual melahirkan kompromi berupa ide sekulerisme. Sekulerisme ini adalah paham yang memisahkan agama dari urusan publik. Artinya, agama boleh saja ada tapi tidak boleh dibawa-bawa masuk ke ranah negara dan masyarakat. Agama haram mengatur wilayah politik, ekonomi, hukum, sosial, dan masalah publik lainnya. Karena ekonomi merupakan aspek yang paling dominan dari sekulerisme, maka kemudian faham ini juga dinamakan Kapitalisme. Ideologi Kapitalisme inilah yang kemudian melahirkan Impreialism Era, zaman penjajahan.

Sekarang kita hidup di era dengan wajah yang agak berbeda. Sekulerisme atau Kapitalisme semakin mengglobal. Imperialisme masih mewarnai dunia dengan wajah baru (new imperialism). Saya telah memberi gelar untuk zaman kita hari ini dengan gelar  Baca lebih lanjut

Pengantar Orimik (Orientalisme, Missionaris, & Kolonialisme)

Para peneliti Islam mendefinisikan orientalisme dengan penelitan atau kajian akademi yang dilakukan non Muslimin dari non Arab baik dari negara timur (asia) ataupun barat terhadap aqidah, syariat, bahasa dan peradaban Islam dengan tujuan membuat keraguan pada agama yang lurus ini dan menjauhkan manusia darinya.

Dengan demikian orientalis (al-mustasyriqun) adalah istilah umum mencangkup kelompok-kelompok non Arab yang bekerja di medan penelitian ilmu ketimuran secara umum dan Islam secara khusus. Tujuan mereka bukanlah untuk pengetahuan dan pendidikan, akan tetapi tujuannya adalah membuat dan menebar keraguan pada kaum Muslimin terhadap agama mereka. Sehingga kalau kita perhatikan misalnya penelitian mereka seputar Al-Qur’an pasti kita akan dapati kerancuan dan upaya keraguan. Kalaupun tidak ada lafadz yang menujukkan hal itu dengan terang-terangan, tapi mesti mereka menggunakan ibarat yang samar dan dapat mengakibatkan keraguan.

Presiden SBY ketika menerima pengharaggan sebagai Ksatria Salib Agung

Presiden SBY ketika menerima pengharaggan sebagai Ksatria Salib Agung

Para peneliti berbeda pendapat tentang sejarah permulaan orientalisme ini, namun secara resmi dimulai dari terbitnya ketetapan Majma’ (konferensi) gereja Viena pada tahun 1312 H dengan membentuk sejumlah lembaga penelitian bahasa Arab di sejumlah universita Eropa. Oleh karena itu ahli sejarah hampir sepakan bahwa abad ke-13 adalah permulaan orientalis bersifat resmi.

Sejak itu, mereka tidak berhenti mempelajari Islam dan bahasa Arab dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab dan sastranya hingga abad ke-18 M. Ternyata sejumlah pakar barat muncul sebagai orientalis dan menerbitkan majalah-majaalah di seluruh kerajaan dan negara Eropa. Mereka mencari manuskrip-manuskrip yang kurang mengerti atau mencurinya dari perpustakaan umum. Mereka memindahkannya ke negara dan perpustakaan umum. Mereka memindahkannya ke negara dan perpustakaan mereka. Akhirnya sejumlah besar manuskrip berbahasa Arab yang langka pindah ke perpustakaan Eropa hingga pada awal abad ke-19 M didapati 250.000 jilid dan ini terus Baca lebih lanjut

KIP Yogyakarta – Indonesia Milik Allah, Saatnya Khilafah Menggantikan Demokrasi dan Sistem Ekonomi Liberal

Grand Pasifik Hall, Yo10390937_263553773828028_9025988405273665085_ngyakarta – Bersamaan dengan suasana Isra’ Mi’raj dan momentum 90 tahun runtuhnya khilafah, sekaligus mengingatkan umat Islam akan kewajiban menegakkan Khilafah dan memberi kabar gembira akan hadirnya kembali Khilafah Islam dalam waktu dekat, Insyaallah. Maka Hizbut tahrir  menggelar agenda akbar yaitu : Konfensi Islam dan Peradaban 1435H dengan tema “Indonesia Milik Allah, Saatnya Khilafah Menggantikan Demokrasi dan Sitem Ekonomi Liberal”. Acara ini diselenggarakan di 70 kota di seluruh Indonesia pada 27 Mei – 1 Juni 2014, termasuk yang telah teselenggara di kota Yogyakarta 27Mei lalu. Dengan Tujuan :

1. Mengingatkan umat Islam, khususnya di Indonesia akan bahaya demokrasi dan sistem ekonomi liberal yang telah menyeret Indonesia dalam berbagai krisis.
2. Memberi alternative agar Indonesia lebih baik dengan Syariah dan Khilafah.
3. Mengajak kaum muslimin untuk mengambil bagian dalam menyongsong perubahan besar dunia menuju Khilafah.

Setidaknya sekitar 5000 ribu lebih kaum muslimin Yogyakata menghadiri agenda yang di gelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia ini. Hal ini mudah-mudahan menjadi tanda bahwa masyarakat telah merindukan sistem yang bermana Khilafah Islamiyah. Makin tumbuh kesadaran umum bahwa kita masih dijajah. Penguasaan alam di negeri ini oleh asing sangat jelas, namun penguasa menjadi kaki tangan kelangsungan perusahaan tersebut dan mengorbankan rakyat. Tidak ada pengaruh atas perubahan pemimpin. Kejahatan negara korporasi ini disebabkan demokrasi dan ekonomi kapitalisme.

Dibuka dengan sambutan dari Ustad Yusuf Mustaqiem S.Kom.I. Hadir sebagai pembicara adalah Ustad M.Rosyid Supriyadi M.SI memaparkan dengan tema “Demokrasi Sistem Rusak dan Menghasilkan Kerusakan”, Ustad Dwi Chondro Triono Ph.D memaparkan dengan meterinya “Sistem Ekonomi Liberal dan Demokrasi; Dari Korporasi, Oleh Koprorasi, dan Untuk Korporasi” kemudian Ustad M.Rahmad Kurnia (DPP HTI) dengan Pidato Politiknya yang berapi-api.

Demokrasi Sumber Kerusakan

Kedaulatan ada di tangan rakyat, itulah pilar utama demokrasi. Sekilas kalimat itu terasa begitu merakyat dan indah didengar. Namun dibalik kalimat indah tersebut demokrasi mengandung racun yang sangat mematikan bagi kehidupan umat manusia di seluruh dunia.
Kedaulatan rakyat di tangan rakyat meniscayakan bahwa hak legislatif atau hak membuat hukum perundang-undangan ada di tangan (wakil-wakil) rakyat, tanpa memandang apakah keputusan-keputusan yang dibuat itu sesuai atau bertentangan dengan hukum Allah SWT dan Rasulullah SAW. “Suara rakyat suara tuhan”, demikian jargon dalam demokrasil Inilah ppangkal dari berbagai malapetaka yang terjadi di seluruh Negara dunia, termasuk Indonesia. Baca lebih lanjut