Selamatkan Indonesia Dari Neo Imprealisme dan Neo Liberalisme

kki_17

Gunung kidul, “Indonesia Milik Allah, Selamatkan Indonesia dari neo imperialisme dan neo liberalisme”. Apa itu imperialisme? Penjajahan, apa itu leberialisme? Kebebasan. Belanda memang sudah tidak menjajah lagi, memang sudah meninggalkan tanah jajahannya, tapi dilanjutkan Amerika. Sehingga kita terbebas dari dari belanda, namun disini ada unsur kebebasan yang berlebihan yaitu “liberal” ala Amerika, seperti “Bebaskan umat Islam dari syari’atnya”. Kalau zaman Siti Nurbaya pacaran sembunyi-sembunyi, sekarang orang-orang bebas berhubungan seks di Parang Tritis. Dan itu boleh, karena mereka telah membayar pajak membayar pajak, mereka menyewa losmen, hotel, penginpan untuk bezina itu dengan membayar pajaknya. Sehingga aparat wajib menjaga ketentraman orang yang sedang berzina tersebut, maka kalau ada orang yang menggrebek tempat seperti losmen dan hotel tempat perzinahan itu bukan mengherankan bisa-bisa Baca lebih lanjut

Iklan

Islam Kepemimpinan & Keindonesiaan

39140310_kampanye-masyumiGagasan Indonesia yang merdeka di mulai pada tahun 1903, ketika Jumi’at Khoir, sebuah organisasi Islam yang dipelopori oleh para ulama di Jakarta yang mengadakan Konggres Khilafah. Mereka mengagas sebuah pemikiran, ide besar tentang bagaimana masa depan Hindia-Belanda dalam prespektif ke Islaman.  Pada kesempatan “Konggres Khilafah” itu dihadirkan utusan dari Kekhalifahan dari Turki Utsmani yang diwakili oleh Muhammad Amin Bey. Kesimpulan yang dicapai dari situ adalah, “Kaum muslimin haram tunduk pada penguasa kafir”. Nah, gagasan inilah yang kelak disikapi oleh Belanda dengan sangat serius, karena gagasan ini memang pantas dicurigai akan memicu pembebasan negara ini dari cengkraman Belanda. Maka Belanda mengeluarkan Staatsblad nomer 26, tahun 1903 yang isinya: 1) Melarang para sultan dan para abdi dhalem pergi berhaji. Karena dikhawatirkan akan terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Pan Islamisme yang sedang marak di Timur Tengah. Inilah yang membuat sultan-sultan kita, raja-raja kita pergi berhaji, kerena memang ada larangan dari Belanda selaku penguasa kala itu. 2) Orang yang pulang haji harus di Baca lebih lanjut

Orang Yang Dimaafkan Di Bulan Ramadhan

maxresdefaultDalam kita menjadi hidup sudah selayak berpedoman kepada hukum Allah, maka sudah sepantasnya pada setiap  gerak-gerik perbuatan kita senantiasa memperhatiakan mana yang Allah perintahkan mana yang Allah larang. Yang wajib, kerjakan. Yang sunnah, diperbanyak. Yang mubbah, boleh tapi jangan banyak-banyak. Yang makruh, mungkin kadang-kadang. Yang haram, jangan sampai. Kalau kita sudah terlanjur melakukan yang haram, Alhamdulillah masih ada pintu taubat. Di dalam hadits riwayat imam Ahmad menyatakan bulan Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mengugurkan dosa-dosa kita lewat taubat, tapi ternyata ada yang tidak diampuni. Apa saja itu? Maka simak, jangan sampai kita melakukannya karena kita tidak mengetahuinya….
Ust. Hawary – Orang Yang Dimaafkan Di Bulan Ramadhan | 20 mnt | 3 Mb

Butir Salju Penanda Kiamat

Albert Einstein dengan teori relativitasnya menunjukkan bahwa, segala sesuatu di dunia, terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Artinya apa, bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki masa, memiliki batas, dan tidak absolut adanya. Sebetuk benda  bisa berubah bentuk, rapuh, rusak, bahkan hancur, karena ia terbatasi oleh dimensi ruang. Pun demikian, sebentuk benda akan menemui titik dimana dia akan rapuh, rusak, bahkan hancur tak bersisa, lenyap, yang hidup akan mati, manusia pasti akan mati, alam semesta akan menemui ajalnya “laa uqsimu biyaumil qiyaamah” karena ia terbatasi oleh dimensi waktu. Persis seperti produk makanan yang dicipta manusia yang umumnya di kemasannya terdapat tanggal ekspaietnya, begitupula produk ciptaan Allah. Allah telah menulis tanggal ekspaiet setiap makhluk ciptaannya, dimana? Fii lauhim mahfudz, tertanggal 50.000 th sebelum masa penciptaan.

Akhi, dunia ini akan hancur, Alam semesta akan menuai kiamatnya, “pasti”. 1400 tahun yang lalu, Muhammah Shallahu’alaihi wa Shallam mengatakan:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ…حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا

“Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga tanah Arab menjadi lahan yang subur dan dialiri sungai- sungai.” (HR Muslim no.1681)

Mungkin dahulu ketika manusia mendengar dari mulut Muhammad mengira, rupanya Muhammad sudah gila, rupanya Muhammad sudah kehilangan akalnya, sebab Baca lebih lanjut

Islam di Korea

Screenshot_2014-09-29-17-24-42_1Sepulang dari melaksanakan tugas dakwah di bumi Korea Selatan, Ustadz Salim A Fillah kembali membina Majelis Jejak Nabi di Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Pertemuan kali ini tersa spesial sebab pada kesempatan kali ini beliau membagikan pengalamannya selama berada di negeri nan jauh itu, menceritakan keadaan pertumbuhan benih-benih Islam di negeri tersebut.

Peradaban negeri Korea ini sungguh sangat unik dari peradaban kerajaan-kerajaan disana hingga sampai peradaban tekhnologi-tekhnologi yang maju hingga saat ini. Disela-sela perjalanan peradaban itu Islam kian tumbuh menyelinap hingga ia telah sampai memiliki tempat tersendiri di bumi Korea. Hingga saat Ustadz Salim menjelaskan pengalamannya terdata bahwakaum muslimin di Korea terbilang sebanyak 30.000 orang yang asli Korea (natif), dan ada sebanyak 250.000 muslim di Korea yang kebanyakan berasal dari kawan-kawan imigran dari negeri seperti Turki, India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Brunei Darusallam, dll.

Sejarah menunjukkan bahwa awal mula kehadiran Islam di Korea ialah pada pertengahan abad ke-7 yakni ketika telah banyak pedagang muslim yang telah sampai ke salah satu kerajaan Korea Baca lebih lanjut

Jejak Kekhilafahan di Jawa (Pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X Pada Pembukaan Konggres Umat Islam Indonesia ke-VI)

audio-sambutan-sri-sultan-hamengkubuwono-x-pada-pembukaan-kongres-umat-islam-indonesia-di-jogjakarta-9-februari-2015-7882Audio | Pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Pembukaan KUII-VI:
Hamengku Buwono x – Pembukaan Kongres (Jejak Kekhilafahan di Jawa) | 2 Mb

Kongres Umat Islam ke-6 yang diselenggarakan di Yogyakarta dan kini pembukaannya Insya Allah berlangsung di Pagelaran Kraton Yogyakarta, mengandung makna simbolik sebuah ziarah spiritual, karena bangunan Pagelaran ini disangga oleh 64 buah tiang yang menandai usia Rasulullah SAW dan perhitungan tahun Jawa.

Sehingga, Kongres yang dirancang untuk napak laku Kongres sebelumnya yang juga dilaksanakan di Yogyakarta, (7-8 November 1945, Red) akan memberi makna historis, agar umat Islam melakukan introspeksi diri dan retrospeksi atas perjalanan sejarahnya.

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Ketika 1935 Ataturk mengubah sistem kalender Hijriyah menjadi Masehi, jauh pada zaman Sultan Agung tahun 1633 telah mengembangkan kalender Jawa dengan memadukan tarikh Hijriyah dengan tarikh Saka. Masa itu sering disebut sebagai awal Renaisans Jawa.

Jika kita melakukan retrospeksi, dalam sejarah pergerakan Islam modern disebutkan Baca lebih lanjut

Wasiat Rasulullah Untuk Abdurraman Bin Auf

Suatu ketika tatkala 10 manusia mulia berkumpul di masjid nabawi. Diantara mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Muadz bin Jabal, Ibnu Aud, Said Al-Khudri, dan Abdullah bin Umar Radhiallahu anhu. Kemudian Rasulullah memanggil Abdurrahman bin Auf dan mewasiatkan sebelum menjalankan perintah beliau untuk melakukan ekspedisi di Dumatul Jandal.Salim3

Hingga di satu titik Rasulullah bersabda, “Ada lima perkara yang jika kalian diuji dengannya, dan jika kalian ditimpa olehnya, aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya:
1) Tidak ada kekejian yang muncul di suatu kaum dan mereka melakukannya kecuali akan timbul penyakit Tha’un dan wabah penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.
2) Dan tidak mereka mengurangi timbangan kecuali mereka akan ditimpa bertahun-tahun kesulitan pangan serta kedzaliman penguasa atas mereka.
3) Dan tidaklah mereka menolak untuk membayar zakat, melainkan akan ditahan dari mereka tetesan air dari langit, jikalau bukan karena hewan-hewan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan. Baca lebih lanjut