Oleh-oleh Dari Ingris

1

Sungai Thames yang pada tahun 1682 disusuri dengan gagah oleh Ngabei Naya Wipraya dan Ngabei Jaya Sedana, Duta Besar Kesultanan Banten untuk Kerajaan Inggris, dalam perhelatan kerajaan yang gegap gempita oleh sambutan rakyat Britania.

Kepada Raja Charles II, mereka persembahkan hadiah dari Sultan Abdul Kahar Abun Nashr berupa 200 karung lada, satu runggai intan berlian, burung merak dari emas yang bertaburkan intan baiduri, serta hadiah-hadiah lainnya; semuanya bernilai sekitar 12.000 real emas.

Saat menyusuri Sungai Thames inilah, uang saku salah satu pelayan mereka yang terdiri atas 33 orang anggota rombongan terjatuh; dan baru ditemukan pada awal abad ke-21 ini berupa koin-koin bertulisan Arab “Laa ilaaha illaLlaah Muhammadur RasuuluLlaah. Pangeran Ratoe ing Bantam” berjumlah 90 keping dalam 1 renteng.
Baca lebih lanjut

The Prisoner, Catatan Dibalik Penjara Israel

prisoners_diarieAda suara-suara yang menolak dibungkam oleh penjajah zionis Israel; tertuangkan dalam catatan harian di balik penjara. Suara rakyat Palestina yang ditindas bertahun-tahun. Suara yang berharap dapat membuka mata hati dunia dan mata hati kita, tentang kezaliman besar yang sedang terjadi.

Suara-suara itu terangkum dalam The Prisonersí Diaries: Catatan dari Balik Penjara yang merupakan terjemahan catatan pribadi berbahasa Arab para mantan tahanan Palestina di berbagai penjara Zionis Israel.

Buku ini tidak hanya bicara tentang kepedihan karena terpisah dari orang-orang tercinta, atau tentang penistaan yang dilakukan para penjajah di ruangan berjeruji. Catatan harian para tahanan ini juga menunjukkan kukuhnya iman, tingginya harapan, dan derasnya doa mereka.

Dua puluh dua kisah yang dituturkan saudara-saudara kita ini, semoga membangkitkan semangat juang kita untuk membebaskan Palestina dan Masjidil Aqsha.

Audio bedah buku : Ust. Salim A Fillah – The Prisoner, Dibalik Penjara Israel

Peristiwa Hudaibiyah

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (١) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (٢)وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (٣)هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (٤)

Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Screenshot_2015-02-10-06-17-42_1Adalah surah Al-Fath yang turun ketika Rasulullah Saw pulang dari Hudaibiyah pada bulan Zulkaidah tahun keenam hijriyah. Ketika itu, orang-orang musryik Mekkah menghalangi Rasulullah yang hendak mengunjungi Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah. Setelah melalui perdebatan panjang, mereka mengajak berdamai dan kedua belah pihak sepakat mengadakan genjatan senjata. Dalam kesepakatan itu pula, disebutkan bahwa Rasulullah saat itu harus pulang kembali ke Madinah dan baru diperbolehkan kembali ke Mekkah untuk melaksanakan umrah pada tahun berikutnya. Para sahabat pun menerima kesepakatan ini, meskipun beberapa sahabat seperti Umar bin Khattab awalnya tidak puas akan hal tersebut.

Dengan kesepakatan ini Rasulullah kembali ke Madinah. Beliau dan para sahabatnya kemudian menyembelih hewan sebagai denda atas terhentinya niat mereka menuju Tanah Suci tersebut. Lalu turunlah surah Al-Fath ini menjelaskan keadaan orang mukmin karena banyak sekali maslahat di dalamnya. Baca lebih lanjut

Pelajaran Berharga Dari Siti Hajar

Ketika nabi Ismail Tatkala di sebuah lembah bernama bakkah. Sepasang suami istri berjalan ditengah keringnya tandus pasir dan cadas-cadas yang menemani mereka. Pada satu titik mereka berdua berjalan, sang istri menggendong bayinya yang masih kemerahan dan makanannya tidak lain ialah susu dari ibunya. Lantas suatu ketika sang suami berjalan ke arah utara. Yang kemudian timbul sebuah pertanyaan pada sang istri, “Kemanakah suamiku akan pergi ?”

Suami itu pergi ke arah utara dengan penuh sesak di dada, dia memikirkan tentang suatu saat dimana ia mendambakan, berdoa kepada Allah untuk mendapatkan satu pemanis dari kehidupan, buah dari hati, hasil percintaan dengan istrinya. Setelah puluhan tahun, Allah memberinya seorang bayi laki-laki. Namun dia di antara dua pilihan, apakah menaati Allah ataukah bersama dengan keluarga yang sangat dicintainya.

JogjajogoKetika selangkah-demi selangkah mengantarkan suami menjauh dari istrinya. Lantas sang istri mulai bertanya, memberanikan tuk membuka lisannya, dan kemudian bertanya dengan sangat lembut “Wahai Ibrahim kemanakah engkau akan pergi?”. Ibrahim lelaki yang dimaksud tetap berjalan, selangkah demi selangkah. Kemudian diulangi lagi pertanyaan yang sama, “Apakah engkau berkehendang meniggalkan kami di sini?”.

Terhenti langkah Ibrahim kemudian ia melihat sedikit kebelakang, didapatinya seorang anak yang dia damba-dambakan sejak puluhan tahun yang lalu. Seorang bayi yang masih didalam kain lampin, belum lagi bisa berbicara, dan belum lagi bisa berbicara dengan sempurna. Kemudian dipandangi Istrinya kemudian ia berbalik dan kembali berjalan ke arah utara.

Siti Hajar kemudian menyeru sekali lagi, “Wahai Ibrahim apakah kami ditinggalkan, lalu siapa yang akan mengurus kami disini?”. Nabi Ibrahim berbalik tampak begitu jelas ia tidak dapat menahan selaksa rasa di dada, kemudian memegang erat kedua tangan Istrinya seraya berkata “Ya”. Baca lebih lanjut

5 Nasehat Dari Nabi Ibrahim

separooAda salah satu doa yang paling agung “sayyidul istighfar”, penghulu semua permohonan ampun.

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.(HR. Bukhari no. 6306)

Insan yang paling agung yang memahami hakikat dari doa tersebut ialah Ibrahim As diabadikan oleh Allah dalam surat As-syuara 78-86, Nabi Ibrahim menyanjung Rabbnya dengan 5 pujian yang sangat indah :

“Allah-lah yang telah menciptaka aku, dan Dialah yang memberi hidayah kepadaku, Baca lebih lanjut

HIKMAH DI BALIK PERANG AHZAB

Telah sampai berita kepada Rasulullah bahwa beberapa kabilah bangsa Arab telah berkumpul menjadi satu dengan Yahudi hendak melawan beliau dan hendak menyerang kota Madinah. Maka atas buah pendapat dari sahabat Salman Al-Farisi, seorang yang sangat memahami strategi-strategi perang di tanah Parsi, dibuatlah benteng (khandak) atau parit yang mengelilingi kota Madinah. Ketika pembuatan benteng itu, Rasulullah sendiri yang mengatur dan memulai pekerjaan tersebut.

Ust. Salim A Fillah

Ust. Salim A Fillah

Kaum Quraisy dan para pendukungnya telah datang dengan maksud melakukan penyerangan, tidak kurang jumlahnya ialah 10.000 orang. Maka tatkala sampai kabar bahwa musuh yang sebanyak itu telah sampai, diperintahkanlah kaum muslimin sekalian bertahan di tepi kota sebelah timur, membelakangi Bukit Assal’a sebanyak 3.000 orang.

20 hari lamanya mereka berperang, akan tetapi tidak ada yang mampu menyerbu ke dalam kota Madinah. Sehingga mereka kaum kafir Quraisy besera kaum Yahudi dan kroni-kroninya mengalami kegagalan yang nyata. Peristiwa inilah yang dinamakan “Perang Ahzab”.

Perang Ahzab merupakan salah satu perang besar yang pernah dialami oleh Rasulullah. Perang ini mengandung sangat banyak hikmah tentang perjuangan jihad sahabat, tentang ujian kesabaran, tentang kerja keras, bahkan tersirat dalam perang ini tentang Baca lebih lanjut

HIJRAH KE HABASYAH

Ust. Salim A Fillah

Ust. Salim A Fillah

Ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam melihat penderitaan yang dialami oleh  sahabat-sahabat beliau, sedang beliau SAW dalam keadaan segar bugar karena kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi pamannya, Abu Thalib, sementara beliau tidak mampu melindungi mereka terhadap penderitaan yang dialami para sahabatnya. Maka beliau Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : “Bagaimana bila kalian berangkat ke negeri Habasyah, karena rajanya bijaksana tidak mengizinkan seorang pun dizhalimi di dalam negerinya, dan negeri tersebut adalah negeri yang benar hingga Allah member jalan keluar atas penderitaan yang kalian alami ?”

Kemudian beberapa sahabat-sahabat beliau Sallallahu Alihi wa Sallam memenuhi usul beliau kemudian pergi ke Negeri Habasyah untuk menghindari penderitaan dan penyiksaan yang lebih berat dan menyerahkan segala urusan mereka kelah sepenuhnya kepada Allah. Itulah hijrah pertama dalam Islam.

Adapun pembahasan kali ini mengenai hijrah ke Negeri Habasyah terbagi menjadi 4 garis besar pembahasan, yaitu :
1. Isyarat hijrah di dalam kisah Ashabul Kahfi
2. Isyarat hijrah menuju negeri Habasyah
3. Peristiwa Gharaniq (sujudnya kaum Quraishy setelah mendengar Al Qur’an)
4. Islamn Baca lebih lanjut