Asketologi Konflik Timur Tengah & Peran Pemuda Islam Terhadap Kebangkitan Peradaban Islam

6fc7d5843111804f37411556d77e6ab1Beberapa negeri Timur Tengah tampak sudah mulai menarik duta besar, dan memtuskan hubungan diplomatik dengn negara iran. Hal itu membuat Iran dan sekutunya bak kebakaran jenggot, karena hal yang seperti ini baru terjadi.  Seolah menjadi jawaban dari pertanyaan yang kerap dilontarkan orang-orang seperti, kalau Syi’ah itu kafir, kenapa Iran masih boleh haji di Saudi?”.

Banyak yang sudah memperkirakan akan dekatnya hari kiamat salah satunya adalah konflik Timur Tengah. Sebagaimana memalui Nubuwah, Beliau Shallallahu’alaihi wa shallam menyebutkannya akan terjadinya “huru-hara internasional”. Sebuah huru-hara, peperangan terbesar yang akan melibatkan seluruh negara Islam dengan orang kafir. Inilah yang pada hari ini disebut sebagai “asketologi konflik timur tengah”.

Ust. Okrisal Eka Putra – Asketologi Konflik Timur Tengah & Peran Pemuda Islam Terhadap Kebangkitan Peradaban Islam | 88 mnt | 15 Mb

Iklan

Pendidikan Kapitalis Pencetak Generasi Rusak

Hidup di era kegagalan tidak cukup sekedar menjadi orang baik. Orang baik artinya berusaha menjalani segala peran di dalam hidup berdasarkan prinsip (Islam dan sunatullah). Begitupun dalam mendidik anak-anak kita. Tidak cukup sekedar menjadikan mereka mampu menjalani peran-peran di dalam hidup dengan baik. Mengapa?

sch anak-anak kita, sedang kendalikan, diarahkan oleh banyak kekuatan. Era kegagalan adalah setting kekuatan-kekuatan itu secara simultan sedang menciptakan ketidakbahagiaan dan krisis multi-dimensi. Ada sebuah mesin di level peradaban dunia yang sedang bekerja men-tuning negara-negara di seluruh dunia, masyarakat, sekolah, rumah bahkan anak kita menuju ke kerusakan hidup. Hedonisme, perzinahan, perselingkuhan, free-sex, korupsi, pedofilia, pornografi, krisis ekonomi, global warming dan berbagai bencana kemanusiaan terus diproduksi secara sistemis. Tentu saja sistem yang bekerja adalah Baca lebih lanjut

Kegagalan Manusia Menata Peradaban

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

—     TQS. Ar-Rum: 41 

1379610_861910137183200_524448291833541520_nAnda tentu masih ingat dengan the days of ignorance (zaman jahiliah) di jazirah Arab. Saat itu manusia hidup dengan hukum dan budaya jahiliah (kebodohan). Berbagai kerusakan menjadi bagian kehidupan manusia. Seorang ayah merasa malu bila memiliki anak perempuan. Sebagian dari mereka tega membunuh anak sendiri sebelum beranjak dewasa. Moralitas juga hancur. Pelacuran tumbuh subur. Tidak hanya pelacuran, sebagian suami malah merelakan istrinya digauli laki-laki lain demi perbaikan keturunan. Perbudakan terhadap manusia juga jauh dari perikemanusiaan. Zina, riba, dan minuman memabukkan tampak secara nyata dalam kehidupan. Zaman kebodohan ini beranjak pergi setelah manusia diatur dengan aturan Ilahi yang berasal dari Al-Khaliq. Muhammad saw. dan pengikutnya membawa perubahan di jazirah Arab dan sekitarnya dengan me-landing-kan Islam.

Dunia juga mengenal the dark ages (zaman kegelapan) di abad pertengahan Eropa. Saat itu doktrin gereja dan otoritas absolut penguasa mengatur manusia dengan kekuasaan represif. Gereja dan raja berkolaborasi mengatur manusia. Semboyan L’etat c’est Mo (negara adalah saya) begitu terasa di tengah kehidupan masyarakat. Raja diposisikan sebagai wakil Tuhan di muka bumi dan gereja memberi legitimasinya. Itulah kekuasaan teokrasi. Hasilnya? Manusia hidup tertindas di bawah kekuasaan despotik dan represif. Kebenaran harus tunduk di bawah doktrin gereja dan raja. Ilmu pengetahuan dianggap bid`ah dan korbannya adalah para ilmuwan yang mengemukakan kebenaran saintifik. Manusia hidup tertekan dan terpasung dengan doktrin-doktrin yang dipaksakan. Penindasan terjadi di mana-mana, termasuk penindasan terhadap kebenaran. Suara kebenaran dipasung dan banyak yang mati di tiang gantungan, salah satunya penyuara teori heliosentris, Copernicus.

The dark ages berakhir dengan perjuangan ilmuwan dan intelektual di abad kegelapan Eropa melahirkan abad pencerahan, the age of enlightenment. Ini terjadi sekitar abad ke-18 M. Mereka bersemangat melakukan revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional dari berbagai aspek, terutama terkait falsafah soverignity, kedaulatan. Kedaulatan tidak lagi ditangan raja atau biarawan, tapi di tangan rakyat (demokrasi). Suara rakyat adalah suara Tuhan menggeser pandangan raja sebagai wakil Tuhan.  Benturan keras antara prinsip gereja dengan kegelisahan intelektual melahirkan kompromi berupa ide sekulerisme. Sekulerisme ini adalah paham yang memisahkan agama dari urusan publik. Artinya, agama boleh saja ada tapi tidak boleh dibawa-bawa masuk ke ranah negara dan masyarakat. Agama haram mengatur wilayah politik, ekonomi, hukum, sosial, dan masalah publik lainnya. Karena ekonomi merupakan aspek yang paling dominan dari sekulerisme, maka kemudian faham ini juga dinamakan Kapitalisme. Ideologi Kapitalisme inilah yang kemudian melahirkan Impreialism Era, zaman penjajahan.

Sekarang kita hidup di era dengan wajah yang agak berbeda. Sekulerisme atau Kapitalisme semakin mengglobal. Imperialisme masih mewarnai dunia dengan wajah baru (new imperialism). Saya telah memberi gelar untuk zaman kita hari ini dengan gelar  Baca lebih lanjut

MEMBANGUN PERADAPAN BERADAP (Ust. Adian Husaini)

Ustad DR Adian Husaini

Ustad DR Adian Husaini

Untuk rekaman kajian ini klik :Download.mp3 | Kalaulah seni berasal dari akal, citra, dan rasa dari seorang manusia. Maka peradaban tidaklah jauh beda dengan itu. Peradaban dibentuk oleh sebuah kebudayaan, sebuah gaya hidup, dan sebuah adab yang berkarakter pada ruang lingkup sosial yang luas.  Sedangkan adab atau nilai-nilai norma yang berlaku tidaklah muncul kecuali dari sudut pandang tertentu.

Sebagaimana tercantum pada Sila kita yang ke Baca lebih lanjut